Bali Membutuhkan Pemimpin, Bukan Penguasa Seperti Bayi !

  • 17 Juni 2018
  • Umum
Bali Membutuhkan Pemimpin, Bukan Penguasa Seperti Bayi !

Download App Nasdem Denpasar

 
Pemimpin dan penguasa. Keduanya terlihat sama, namun sesungguhnya sangat berbeda. Dalam posisi jabatan kemungkinan sama, namun dalam peran sangat berbeda.
 
Bila kita kupas terkait pemimpin lebih dahulu. Pemimpin adalah seseorang yang memiliki kemampuan POAC. Berdasarkan POAC, seorang pemimpin harus mampu merencanakan program pembangunan di awal (Planing) dan kemudian mampu menciptakan wadah yang akan melaksanakan perencanaannya tersebut (Organization), dalam prosesnya, sang pemimpin harus memiliki kecerdasan sehingga dapat mengambil keputusan-keputusan yang tepat dalam menyelesaikan apa yang sudah di rencanakan (Actuality), dan terakhir, pemimpin harus mau dan bisa menjadi pengawas yang baik bagi program-program yang dijalankan (Control).
 
Penjelasan tersebut disampaikan oleh Sekjen Kesatuan Pelaut Indonesia (KPI), I Dewa Nyoman Budiasa, dalam satu kesempatan di Istana Taman Jepun, Denpasar.
 
Budiasa menambahkan, kepemimpinan tidak terbatas pada leadership tetapi harus juga seimbang dengan kemampuan managemen. Seorang pemimpin harus mampu mengelola semua elemen dalam organisasi hingga ke level terkecil, ujar Budiasa.
 
Penguasa dapat kita samakan sebagai seorang Bayi, seorang yang ingin agar kita selalu mengikuti apa yang menjadi kehendaknya. Apapun itu, semua kehendaknya harus terpenuhi.
 
Apakah kita mau dipimpin oleh seorang bayi ?
 
Bali saat ini membutuhkan seorang Pemimpin, bukan Bayi, tegas Budiasa.
 
Seorang penguasa, biasanya mendapat kekuasaan dengan cara merebut dari pihak lain, lewat peperangan atau penjajahan. Sebagian besar orang yang berada dalam kekuasaannya, juga tak pernah merasakan kedamaian. Bahkan, tak menutup kemungkinan mereka akan berada dalam kondisi tertekan, karena harus menuruti setiap kemauan penguasa. Penguasa pun memiliki kewenangan tunggal dan bersifat mutlak, serta tak bisa diganggu gugat.
 
Pemimpin yang baik mempersiapkan generasi penerusnya yang lebih baik dari dirinya. Penguasa akan selalu berusaha menghalangi, melemahkan, menghancurkan siapapun yang dianggap membahayakan kekuasaannya.
 
Apabila kita salah menentukan sikap antara memilih Penguasa dan Pemimpin maka berarti kita memiliki andil dalam menghancurkan pembangunan Bali.
 
Sumber : MantraKerta.ID
  • 17 Juni 2018
  • Umum

Berita Terkait Lainnya

Cari Berita